salam sahabat semuanya, sudah lama saya tidak mem posting artikel, insyallah sekarang saya ingin berbagi sebuah hikmah yang tentunya saya harap bisa bermanfaat
teman-teman, kita faham semua bahwa dalam kehidupan didunia ini kita takkan bisa hidup sendiri, karena kita diciptakan oleh ALLAH SWT sebagai manusia sosial yang secara fitrah membutuhkan orang lain. kita dilahirkan oleh seorang Ibu, dan Ibu pun tak bisa hamil kecuali ada seorang Ayah. Saat kita dilahirkan kita masih harus diberi ASI (air Susu Ibu), dimandikan, dipakaikan pakaian, beranjak dewasa disuapi makanan, saat belajar berjalan dipapah dan seterusnya hingga dewasa kita tetap membutuhkan orang lain dalam menjalankan kehidupan.
Tentunya bukan hanya orang tua atau saudara kerabat saja yang kita butuhkan tapi kita pun membutuhkan sosok teman yang bisa mengerti, memahami, berada disisi kita saat suka maupun duka, mendukung jika kita dalam kebaikan dan mengingatkan dikala kita tersesat.
saat saya lulus Tsanawiyah atau sederajat dengan SMP (sekolah Menengah Pertama), saat itu Ayah memberikan pilihan alternatif untuk melanjutkan study ke jenjang berikutnya, beliau menawarkan ke SMA, SMA ISLAM, dan terakhir adalah Pesantren. setelah saya pertimbangkan maka jatuh pilihan dipesantren, karena ingin melanjutkan untuk Tahfizh (menghafal) Al Qur'an maka pilihanpun jatuh pada pesantren Tahfizh Qur'an.
singkat cerita saya daftar dan masuk lah pesantren Tahfizh Qur'an di Jogja, saat keberangkatan ke Jogja saya tidak sendiri tapi ada 10 orang santri lainnya yang berasal dari bandung. Kami didampingi orang tua masing-masing berangkat menggunakan Kereta Api. Tiba di Jogja kami dijemput oleh mobil pesantren, tiba dipesantren saya dan teman-teman langsung berbisik "wahh bagus ya pesantren nya...", bukan hanya kami santri baru yang senang tapi orang tua kamipun tersenyum bahagia melihat kondisi pesantren. nah saya dan santri dari Bandung pun karena sesama orang sunda jadi selalu bersama melakukan aktifitas. tak lama sore hari nya ada pengumuman bahwa santri baru yang dari bandung diharapkan mengemas semua barang dan naik ke bus yang disiapkan pesantren. saat itu orang tua kami masih ada mendampingi. kamipun mencari informasi kenapa kami harus mengemas barang. Ternyata kami akan dikirim ke cabang pesantren yang berada di daerah Bantul. ada satu teman yang dari Bandung merasa keberatan jika dipindah, karena sudah merasa enak dan nyaman di Pesantren yang Utama tersebut, walhasil dia mengurungkan diri dan memilih pulang saja ke Bandung, kami kehilangan satu teman saat itu sedangkan saya yang diantar oleh Ummi dan adik yang paling kecil bersama teman santri dari Bandung Lainnya berangkat Menuju Ke Pesantren Cabang.
Tiba di Pesantren Cabang, memang tidak sebagus yang Utama, tapi sekilas sih sejuk, kemudian kami semua diantar oleh pihak pesantren masuk ke asrama "inilah kamar teman-teman semua silahkan" ucap seorang santri senior yang mengantarkan kami. mulai tumbuh sebuah ketidak kerasan/ ketidak betahan, karena tempat tidurnya hanya tikar saja tanpa ada lemari dan bantal. Berbeda dengan Pesantren awal tadi dimana setiap santri diberi kasur untuk tidur. Setelah melihat kondisi kamarnya demikian walhasil ada 2 orang yg mundur dan akhirnya memutuskan pulang ke bandung. jadi kami hanya tersisa 7 orang. singkat cerita lagi kamipun 7 orang dari bandung mondok di pesantren cabang tersebut. orang tua kami pun pulang ke Bandung. dimulailah petualangan kami, ternyatasaat makan malam tiba 3 orang dari kami santri bandung mengundurkan diri juga berniat untuk pulang saja ke bandung karena saat makan ternyata tidak bersih, jadi semua santri itu ngantri lalu nasi dan lauk nya di takar oleh santri senior. Masalahnya bukan takaran yg sedikit tapi saat memberikan nasi dan lauk tersebut tidak bersih alias tangan santri senior tersebut masuk ke nasi dan lauk sayur tersebut jadi agak jijik melihatnya, dan nafsu makan kamipun menurun bahkan kami dari bandung sepakat tidak makan di pesantren, kami cari info barangkali dibelakang pesantren ada warung dan alhamdulillah ternyata ada.
singkat cerita kami tersisa 4 Orang, pertemanan kami terus sangat erat, namun waktu pun menjawab ternyata kami berguguran, satu persatu pun pulang ke bandung dan saya tersisa sendiri dipesantren. saat itupula saya dipilih oleh ustadz untuk dipindahkan kembali ke cabang pesantren lainnya yang lebih kecil cuma ada 20 orang santri saja. Dicabang tersebut saya bertemu dengan teman satu kamar bernama Septi dia orang Jogja dan kisah persahabatan kamipun dimulai saat itu. saya masih ingat beliau setia saat saya sakit beliau lah yg mendampingi, menyiapkan makan, menyiapkan obat dan lain sebagainya. begitupun saat saya merasa ada kelebihan saya ajak dia makan dikantin, saya bantu dia dalam hal pelajaran pesantren. lalu ada satu lagi satu santri pindahan namanya andri dari bekasi dan akhirnya kami ber3 mengikat sebuah persahabatan dalam kerangka cinta pada ALLAH, subhanallah kami berjumpa dan bersama belum lama tapi persahabatan kami bisa dibilang sejati, setiap hari kami saling berlomba-lomba dalam kebaikan, misalkan kami bersama-sama untuk menghafal Alqur'an setiap hari minimal 1/2 halaman, kami selalu bersama-sama datang lebih awal ke masjid saat sholat jama'ah, jika ada diantara kami yang down/futur dalam semangat maka kami saling memberi semangat, subhanallah indah sekali. Namun karena beberapa pertimbangan akhirnya kami ber3 memutuskan untuk keluar dari pesantren. saat itu septi yang awalnya dari keluarga kaya namun ayahnya menikah dgn ibu tirinya semenjak ibunya meninggal tapi ibu tirinya ternyata hanya mengambil harta sang ayah walhasil septi dan keluarga jatuh miskin, dan Andri dia sudah ditinggalkan Almarhum Ayahnya trus karena adiknya begitu banyak akhirnya andri rela tinggal di panti asuhan, tapi subhanallah yang membuat saya terharu adalah diketerbatasan septi, tapi tetap ingin menolong kami satu sama lain. Septi memberikan uang tabungannya pada Andri dan Saya karena kami kehabisan uang untuk kembali ke kampung masing-masing.
Ikatan Persahabatan yang dikarenakan ALLAH begitu indah dan mulia, maka selayaknya ikatan itu harus didasari karena kecintaan pada ALLAH....
di Album Grum Nasyid saya yaitu Nahawan sayapun membuat Lagu judulnya "Salam untuk Sahabat" untuk sahabat-sahabat saya yang entah sampai sekarang dimana, karena zaman dulu belum ada HP apalagi jejaring sosial.
Namun saya setelah sekian lama akhirnya saya merasakan kembali bersahabat dengan beberapa teman saya di Aliyah, namun saat itu saya dikhianati karena hal yang sepele yaitu karena duniawi, maka dari itu saya pun membuat single lagu berjudul "Mungkin Ku Yang Salah" walaupun sudah jelas teman kita yang salah tapi tetap kita kembalikan pada diri kita. itulah isi yang terkandung dlam single saya
bisa di dengarkan disini
http://www.reverbnation.com/play_now/song_13545974